Peran Kepribadian Guru dalam Membentuk Kepribadian Siswa

kartun guru

Sebagai individu yang berkecimpung dalam pendidikan, guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Tuntutan akan kepribadian sebagai pendidik kadang-kadang dirasakan lebih berat dibanding profesi lainnya. Karena ada ungkapan yang sering dikatakan “guru digugu dan ditiru”. Digugu maksudnya bahwa pesan-pesan yang disampaikan guru bisa dipercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya bisa ditiru atau diteladani.

Karena itu, hal yang paling utama dilakukan guru dalam usaha membentuk kepribadian muridnya menjadi pribadi yang mulia, terlebih dahulu seorang guru harus mampu menjadikan dirinya seorang yang patut ditiru.

Jangan sampai seorang guru hanya bisa memberikan contoh kebaikan, namun dia sendiri tidak bisa menjadi contoh dari kebaikan itu. Allah Swt. sangat melaknat orang-orang yang hanya pandai memberikan nasehat-nasehat kebaikan tetapi dia sendiri mengabaikannya, hal ini seperti yang dijelaskan di dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُون. كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ  

Artinya:          “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. al-Shaff [61]: 2-3)

Rasulullah Saw. juga bersabda:

يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِى النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلاَنُ مَا لَكَ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ فَيَقُولُ بَلَى قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ (رواه مسلم)

Ayat dan hadis di atas jelas menyatakan bahwa, di dalam ajaran Islam tidak dibenarkan seorang muslim (terutama guru) hanya pandai memberikan contoh kebaikan tetapi dia sendiri meninggalkan atau bahkan berlawanan dengan apa yang dikatakannya. Islam menghendaki seorang muslim tidak hanya memberikan contoh kebaikan, namun harus bisa juga menjadi contoh kebaikan tersebut. Dan ini lah yang dicontohkan Rasulullah Saw. kepada umatnya.

Imam al-Ghazali sebagaimana yang dikutip oleh Zainuddin, dkk., mengatakan bahwa, “Seorang guru hendaknya mengamalkan ilmunya, lalu perkataannya jangan membohongi perbuatannya. Karena sesungguhnya ilmu itu dapat dilihat dengan mata hati, sedangkan perbuatan dapat dilihat dengan mata kepala. Padahal yang mempunyai mata kepala adalah lebih banyak.”

Statemen al-Ghazali tersebut dapat disimak bahwa amal perbuatan, perilaku, akhlak dan kepribadian seorang pendidik adalah lebih penting daripada ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Karena kepribadian seorang guru akan diteladani dan ditiru oleh muridnya, baik secara sengaja maupun tidak sengaja dan baik secara langsung maupun tidak langsung. Jadi al-Ghazali sangat menganjurkan agar seorang guru mampu menjadikan tindakan, perbuatan dan kepribadiannya sesuci dengan ajaran dan pengetahuan yang diberikan pada muridnya. Antara sang guru dan muridnya, al-Ghazali mengibaratkan seperti tongkat dan bayang-bayangnya. Bagaimana bayang-bayang akan lurus, apabila tongkatnya saja bengkok.

Abdullah Nashih Ulwan di dalam kitab Tarbiyatul Aulad fi al-Islam menyatakan bahwa:

“من السهل على المربى أن يلقن الولد منهجا من مناهج التربية. ولكن من الصعوبة بمكان أن يستجيب الولد لهذا المنهج حين يرى من يشرف على تربيته، ويقوم على توجيهه غير متحقق بهذا المنهج. وغير مطبق لأصوله ومبادئه”.

Maksudnya, hal yang mudah bagi guru mengajari muridnya dengan berbagai materi pendidikan, akan tetapi hal yang sangat sulit bagi murid untuk melaksanakan nilai-nilai pendidikan tersebut ketika ternyata ia melihat orang yang memberikan pengarahan dan bimbingan kepadanya tidak mengamalkannya. Atau ucapannya berbeda dengan perbuatannya.

Guru adalah contoh terbaik dalam pandangan murid sehingga segala tingkah laku dan bahkan ucapan seorang guru akan selalu terbesit dalam benak mereka. Segala yang bersumber dari guru diklaim sebagai hal yang patut ditiru. Padahal belum tentu demikian. Guru adalah manusia biasa yang pastinya tidak luput dari salah dan khilaf, maka tidak dapat dipungkiri suatu ketika pasti akan melakukan perbuatan yang kurang atau bahkan tidak baik. Walaupun demikian, merupakan tugas pokok seorang guru untuk selalu siap menjadi panutan bagi orang-orang di sekitarnya, terutama murid-muridnya.

Karena guru selalu menjadi sorotan, terutama oleh murid-muridnya, maka sudah menjadi kewajibannya agar ia dapat menjadikan dirinya sebagai teladan bagi mereka. Hal ini senada dengan apa yang telah dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara yakni: “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”. Ing ngarso sung tolodo yang berarti bahwa seorang guru (sebagai pemimpin, orang yang berada di depan) harus dapat memberikan teladan yakni dengan melaksanakan norma-norma kehidupan dalam kesehariannya. Ing madyo mangun karso berarti jika seorang guru sedang berada di tengah-tengah anak didiknya, dia harus dapat mendorong kemauan atau kehendak mereka, membangkitkan hasrat mereka untuk berinisiatif dan bertindak. Tut wuri handayani yang berarti bahwa seorang guru dituntut untuk dapat melihat, menemukan dan memahami bakat atau potensi-potensi apa yang timbul dan terlihat pada anak didik, untuk selanjutnya dapat dikembangkan dengan memberikan motivasi atau dorongan ke arah pertumbuhan yang sewajarnya dari potensi-potensi tersebut.

Tugas seorang guru, khususnya guru agama memang berat. Namun, seorang guru yang mempunyai jiwa pendidik tidak akan merasakan beratnya beban tersebut. Ia akan melaksanakan tugasnya dengan ikhlas. Keikhlasan ini dapat ditunjukkan dengan senantiasa menjadikan dirinya sebagai teladan bagi anak didiknya. Kewajiban menjadi teladan ini merupakan konsekuensi akan tugasnya sebagai guru.

Guru merupakan seorang pendidik. Sebagai pendidik, ia hendaknya memiliki kriteria-kriteria tertentu sehingga merupakan ciri yang melekat dalam dirinya. Ciri tersebut merupakan kepribadian yang kemudian dapat dilihat dari sifat yang ditampilkan. Kepribadian inilah yang akan menjadikannya sebagai panutan bagi anak didiknya. Dengan menampilkan sifat-sifat utama, menandakan bahwa ia menyadari akan perannya dalam pendidikan. Dan agar usaha pendidikan yang dilakukannya dapat berhasil dengan baik, maka hendaknya ia dapat menampilkan diri sebagai teladan bagi anak didiknya dimanapun ia berada.

Dalam pendidikan Islam, guru juga harus mampu menjadikan pribadinya sebagai sosok ideal yang dijadikan sebagai teladan bagi anak didik. Dalam setiap perilaku mendidik hendaknya guru selalu mendasarkan bahwa ia adalah sebagai hamba Allah yang harus mengabdikan diri kepada-Nya. Dengan menampilkan pokok inti tujuan pendidikan tersebut, maka diharapkan dalam diri anak didik akan tertanam jiwa yang utama.

Tingkah laku atau moral juga merupakan penampilan kepribadian seseorang, termasuk guru. Kalau tingkah laku atau akhlak guru tidak baik, pada umumnya akhlak muridnya akan rusak olehnya. Hal ini terjadi karena anak mudah terpengaruh oleh orang yang dikaguminya. Atau dapat juga menyebabkan anak didik gelisah, cemas, terganggu jiwanya karena mereka menemukan contoh yang berbeda atau berlawanan dengan contoh yang selama ini didapatkannya di rumah dari orang tua dan keluarganya.

Hal ini seperti yang dikatakan oleh Abdullah Nashih Ulwan di dalam kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam, bahwa:

“ومن هنا كانت القدوة عاملا كابرا فى صلاح الولد أو فساده: فإن كان المربى صادقا أمينا خلوقا كريما شجاعا عفيفا. نشأ الولد على الصدق والأمانة والخلق والكرم والشجاعة والعفة. وان كان المربى كاذبا خائنا متحللا بخيلا جبانا نذلا. نشاء الولد على الكذب الخيانة والتحلل والجبن والبخل والنذالة”.

Maksudnya keteladanan adalah faktor terpenting dalam menentukan baik buruknya pribadi murid. Jika seorang guru jujur, dapat dipercaya (amanah), memiliki akhlak yang mulia, pemberani, dan pemaaf, maka si murid akan tumbuh dalam kejujuran, berakhlak mulia, pemberani dan pemaaf. Begitu pula sebaliknya, jika guru seorang pembohong, penghianat, kikir, sombong dan hina, maka si murid akan tumbuh dalam kebohongan, khianat, kikir, sombong dan hina pula.

Untuk itulah seorang guru harus senantiasa menampilkan budi pekerti yang mulia dalam setiap perilakunya, yang kemudian akan menjadi rujukan bagi murid-muridnya. Pendidikan dengan menampilkan akhlak mulia, akan dapat membentuk pribadi murid dengan baik, demikian juga sebaliknya, bila pendidikan dengan menampilkan akhlak tercela, maka akan dapat membentuk pribadi yang tercela pula.

SEMANGAT BAGI PARA GURU!!!

Hati dan Wajah Ceria Setiap Hari

Sebuah cerita sederhana pada zaman Nabi Muhammad SAW, sahabat rasul yang bernama Abu Umamah dan Abu Yazid. Semoga kisah ini bisa menjadikan pelajaran untuk kita semua sehingga bisa mengarahkan pada kebaikan disetiap gerak langkah kita.

Episode satu :

Suatu ketika Rasulullah saw memasuki masjid. Tiba-tiba dilihatnya seorang lelaki Anshor bernama Abu Umamah yang duduk termenung.

Rasulullah bertanya, “Hai Abu Umaamah, kenapa engkau duduk di masjid bukan pada waktu shalat?” “Susah karena memikirkan hutang ya Rasulullah?” ujar Abu Umaamah terus terang.

Rasul mengatakan, “Maukah engkau aku ajarkan satu bacaan yang bila engkau baca maka Allah akan menghapuskan kesusahanmu dan melunasi hutang-hutangmu?” Abu Umaamah berseri-seri dan segera menyambut tawaran Rasulullah tersebut.

Rasulullah saw berkata, “Ucapkanlah olehmu pada pagi dan petang: “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari rasa susah dan sedih. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan tekanan orang.” (HR. Abu Daud)

Episode kedua :

Abu Yazid Al Busthami, salah satu tokoh sufi, pada suatu hari pernah didatangi seorang lelaki yang wajahnya kusam dan keningnya selalu berkerut.

Dengan murung lelaki itu mengadu, “Tuan, sepanjang hidup saya, rasanya tak pernah lepas saya beribadah kepada Allah. Orang lain sudah lelap, saya masih bermunajat. Istri saya belum bangun, saya sudah mengaji. Saya juga bukan pemalas yang enggan mencari rezeki. Tetapi mengapa saya selalu malang dan kehidupan saya penuh kesulitan?”

Abu Yazid menjawab sederhana, “Perbaiki penampilanmu dan rubahlah roman mukamu. Kau tahu, Rasulullah adalah penduduk dunia yang miskin namun wajahnya tak pernah keruh dan selalu ceria. Sebab menurut Rasulullah, salah satu tanda penghuni neraka ialah muka masam yang membuat orang curiga kepadanya.”

Lelaki itu tertunduk. Ia pun berjanji akan memperbaiki penampilannya. Setelah itu, wajahnya senantiasa berseri. Setiap kesedihan diterima dengan sabar, tanpa mengeluh. Alhamdullilah sesudah itu lelaki tersebut tak pernah datang lagi untuk berkeluh kesah.

Apa yang kita simpulkan dari dua episode di atas? Sesungguhnya suasana jiwa, sangat berpengaruh pada bagaimana seseorang menyikapi dan menjalani hidup. Apa yang disampaikan Rasulullah saw kepada Abu Umamah dalam episode pertama, selain do’a itu insya Allah akan diijabah oleh Allah swt, makna dan kandungan do’a itu akan menciptakan semangat jiwa yang baru dalam diri Abu Umaamah. Dan ternyata, dalam riwayat hadits tersebut, ketika Abu Umaamah membiasakan berdo’a sebagaimana yang diajarkan Rasulullah, ia menjadi pemuda yang giat bekerja sampai ia berhasil melunasi hutang-hutangnya.

Pelajaran itu tak berbeda dengan apa yang terjadi dalam dialog antara Abu Yazid dengan seorang pemuda yang murung itu. Abu Yazid menyampaikan bahwa hendaknya ia memandang dunia ini dengan hati yang gembira, senang dan wajah yang ceria. Dengan memperbaiki penampilan wajah, maka hati pun akan ceria. Dengan kata lain, Abu Yazid ingin merubah cara pandang pemuda itu terhadap hidup. Ia ingin mengajarkan bahwa hidup tak boleh disikapi dengan keresahan. Sekedar memandang hidup dengan keceriaan wajah yang akan membawa keceriaan hati. Keadaan itulah yang akan banyak membantu seseorang untuk giat bekerja dengan hati yang senang. Sederhana bukan?
Jadi, mari kita mulai dari diri kita sendiri, menghadapi semua masalah dengan sabar dan senantiasa bertawakkal kepada Allah saw. wallahu a’lam bisshowab

Hari Ini Milik Kita

من كان يومه خيرا من امسه فهو رابح. ومن كان يومه مثل امسه فهو مغبون. ومن كان يومه شرا من امسه فهو ملعون. ( رواه الحاكم  )
“Barang siapa hari ini LEBIH BAIK dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang BERUNTUNG, Barang siapa yang hari ini SAMA DENGAN hari kemarin dialah tergolong orang yang MERUGI dan Barang siapa yang hari ini LEBIH BURUK dari hari kemarin dialah tergolong orang yang CELAKA” (HR Hakim)

Jika kita berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan kita jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari kita, dan siangnya menyapa kita inilah hari kita.

Umur kita, mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah masa hidup kita hanya hari ini, atau seakan-akan kita dllahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup kita tak akan tercabik-cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan.

Pada hari ini pula, sebaiknya kita mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Dan pada hari inilah, kita harus bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu’, bacaan al-Qur’an yang sarat tadabbur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik terhadap sesama.
Pada hari dimana kita hidup saat inilah sebaiknya kita membagi waktu dengan bijak. Jadikanlah setiap menitnya laksana ribuan tahun dan setiap detiknya laksana ratusan bulan. Tanamlah kebaikan sebanyak-banyaknya pada hari itu. Dan, persembahkanlah sesuatu yang paling indah untuk hari itu. Beristighfarlah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada-Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan menuju alam keabadian, dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan! Terimalah rezeki, isteri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu, dan jabatan kita hari dengan penuh keridhaan
فخذ مآ ءاتيتك وكن من الشاكرين (144)…….
{Maka berpegangteguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang yang bersyukur.} (QS. Al-A’raf: 144)

Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian dan kebencian.

Jangan lupa, hendaklah kita goreskan pada dinding hati kita satu kalimat (bila perlu kita tulis pula di atas meja belajar atau kerja kita): Harimu adalah hari ini. Yakni, bila hari ini kita dapat memakan nasi hangat yang harum baunya, maka apakah nasi basi yang telah kita makan kemarin atau nasi hangat esok hari (yang belum tentu ada) itu akan merugikan kita?

Jika kita dapat minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa kita harus bersedih atas air asin yang kita minum kemarin, atau mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi?

Jika kita percaya pada diri sendiri, dengan semangat dan tekad yang kuat kita, maka akan dapat menundukkan diri untuk berpegang pada prinsip: aku hanya akan hidup hari ini. Prinsip inilah yang akan menyibukkan diri kita setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi, dan mensucikan setiap amalan.

Dan itu, akan membuat kita berkata dalam hati, “Hanya hari ini aku berkesempatan untuk mengatakan yang baik-baik saja. Tak berucap kotor dan jorok yang menjijikkan, tidak akan pernah mencela, menghardik dan juga membicarakan kejelekan orang lain. Hanya hari ini aku berkesempatan menertibkan rumah dan kantor agar tidak semrawut dan berantakan. Dan karena hanya ini saja aku akan hidup, maka aku akan memperhatikan kebersihan tubuhku, kerapian penampilanku, kebaikan tutur kata dan tindak tandukku.”

Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb, mengerjakan shalat sesempurna mungkin, membekali diri dengan shalat-shalat sunah nafilah, berpegang teguh pada al-Qur’an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfaat.

Aku hanya akan hidup hari ini, karenanya aku akan menanam dalam hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon kejahatan berikut ranting-rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, ujub, riya’, dan buruk sangka.

Hanya hari ini aku akan dapat menghirup udara kehidupan, maka aku akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kepada siapapun. Aku akan menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan jenazah, menunjukkan jalan yang benar bagi yang tersesat, memberi makan orang kelaparan, menolong orang yang sedang kesulitan, membantu yang orang dizalimi, meringankan penderitaan orang yang lemah, mengasihi mereka yang menderita, menghormati orang-orang alim, menyayangi anak kecil, dan berbakti kepada orang tua.

Aku hanya akan hidup hari ini, maka aku akan mengucapkan, “Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi.”

“Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka, aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok hari mungkin tak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satu pun darinya yang dapat disebutkan.”

“Hari ini milik kita”, adalah ungkapan yang paling indah dalam “kamus kebahagiaan”. Kamus bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang paling indah dan menyenangkan.

Ayo semua kita tunjukkan kualitas terbaik kita untuk keseharian kita dengan berbagai amal kebaikan yang akan membawa kita kepada syurga, Aamiin!!!

3 karakteristik manusia

Kita hidup di dunia ini mengemban banyak tugas, kita adalah khalifah pada diri kita sendiri. Sebagaimana hadits nabi Muhammad SAW :

حديث عبد الله بن عمر رضي الله عنهما. ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: كللكم راع فمسؤل عن رعيته فالامير الذي على الناس راع وهو مسؤل عنهم. والرجل راع على اهل بيته وهو مسؤل عنهم. والمرأة راعية على بيت بعلها وولده وهي مسؤلة عنهم. والعبد راع على مال سيده وهو مسؤل عنه، الا فكلكم راع و كللكم مسؤل عن رعيته

Hadits Abdullah bin Umar ra. Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir yang mengurus keadaan rakyat adalah pemimpin. Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin terhadap keluarganya di rumahnya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya. Ia akan diminta pertanggungjawaban tentang hal mereka itu. Seorang hamba adalah pemimpin terhadap harta benda tuannya, ia kan diminta pertanggungjawaban tentang harta tuannya. Ketahuilah, kamu semua adalah pemimpin dan semua akan diminta pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya.

Hadits ini sangat populer dan boleh jadi sudah banyak dari kita yang menghafalnya, hadits diatas mengingatkan kepada kita semua — dengan apapun profesi kita saat ini– bahwa Allah akan memintakan pertanggungjawaban dari semua amanah yang telah Dia embankan kepada hambaNya. Tidak ada yang dibiarkan olehNya kecuali setiap kita  akan ‘diberondong’ dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan saat itu tak ada satu makhlukpun yang bisa untuk berdusta.Jika kita ingin menjadi orang yang sholeh maka mulailah dari diri kita sendiri. Tiga Karakteristik Manusia Dalam kehidupan kita di dunia, yaitu:

1. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Islamiah

Ia adalah orang yang rajin beribadah dan rajin ke masjid. Orang yang seperti ini harus dinomor satukan, kerana mereka lebih dekat dengan dakwah kita, sehingga tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan untuk mengajak mereka pun tidak banyak kesulitan, insya Allah. Dalam surat ali imron kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.

            Kita sebagai orang muslim haruslah selalu berusaha untuk menjadi orang yang baik dengan dihiasi akhlak islami. Akhlak yang mulia yaitu akhlak yang diridai oleh Allah SWT , akhlak yang baik itu dapat diwujudkan dengan mendekatkan diri kita kepada Allah yaitu dengan mematuhi segala perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, mengikuti ajaran-ajaran dari sunnah Rasulullah, mencegah diri kita untuk mendekati yang ma’ruf dan menjauhi yang munkar.

2. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Asasiyah

Ia adalah orang yang tidak taat beragama, tetapi tidak mau terang-terangan dalam berbuat maksiat kerana ia masih menghormati harga dirinya. Orang-orang semacam ini menempati urutan kedua.

3. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Jahiliah

Ia adalah orang yang bukan dari golongan pertama atau kedua. Dialah orang yang tidak peduli terhadap orang lain, sedang orang lain mencibirnya kerana perbuatan dan perangainya yang jelek. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya sejelek-jelek tempat manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan (dijauhi) masyarakatnya kerana takut dengan kejelekannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Golongan inilah yang disebut dalam sabda Rasulullah saw. sebagai: “Sejelek-jelek teman bergaul”. (HR. Muslim)

Orang-orang semacam ini menempati urutan terakhir dalam prioritas dakwah fardiyah. Ada seseorang berdiri di bawah pohon apel yang sedang berbuah lebat. Jika ia ingin memetik, ia terlebih dulu memetik buah yang dapat dijangkau dengan tangannya. Jika sudah habis, dan tinggal yang paling atas, maka jika dapat dijangkau buah itu akan dipetik dan kalau tidak, buah tersebut tidak akan terpetik. Bukan berarti seorang da’i harus tetap berpegang dan terikat dengan urutan ini, kerana kadang kala keadaan bisa mengubah pandangannya dalam hal ini dengan izin Allah seperti yang terjadi pada Umar bin Khathab ra., Khalid bin Wahd ra., Amr bin Ash ra., dan yang lain.

Ada seseorang yang pergi ke pantai untuk memancing ikan dengan membawa peralatan pancing. Menurut pengalamannya, dengan peralatan yang ia bawa itu hanya akan mendapatkan ikan-ikan kecil. Tetapi pada saat itu ia terkejut karena mendapatkan ikan yang besar. Inilah perumpamaan orang yang baik pasti akan mendapatkan hasil baik pula di akhirat kelak.

Setiap kita pemimpin, maka waktunya akan tiba, suka atau tidak suka, kita akan duduk dibangku ‘pesakitan’ di hari akhirat dan semua yang pernah dilakukan di dunia ini akan ditanyakan secara detail, tak ada sedikitpun yang terlewat,  ada ancaman dan ada janji indah yang telah disiapkan, dan semua keputusan ada dalam ‘genggaman’Nya.

So, jadilah pemimpin yang amanah serta menyeru pada yang ma’ruf dan menolak yang munkar.

PENGGUNAAN ASPEK BUDAYA DALAM PENGAJARAN BAHASA ARAB

Ahmad Afwan Yazid

Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

afwanyazid@gmail.com

 

Abstrak

Seperti kita ketahui berhasil atau tidaknya komunikasi antara seorang penutur asing dengan penutur asli tidak hanya bergatung pada tingkat kompetensinya dalam komponen-komponen lingguistik yang diperoleh dari pengajaran bahasa saja. Para pembelajar juga perlu mempunyai pemahaman budaya bahasa sasaran, agar ia dapat memasuki tahap melakukan komunikasi dengan sikap yang positif mengenai lawan bicara yang budayanya berlainan. Tentu saja semua itu hanya mungkin dicapai apabila komponen budaya juga dimasukkan dalam pengajaran bahasa sasaran.

Kata Kunci : Budaya, Pengajaran, Bahasa Arab.

Berbahasa merupakan kegiatan manusia setiap saat dalam berhubungan dengan orang lain yang dimulai ketika manusia itu melihat dunia. Bayi yang baru lahir misalnya, ketika menangis hingga tertawa adalah bentuk mula berbahasanya Dilihat dari fungsinya, bahasa merupakan alat mengkomunikasikan perasaan, pikiran, dan gagasan kepada orang lain. Sehingga kegiatan yang paling banyak dilakukan manusia ketika berhubungan dengan orang lain adalah berbahasa, atau dalam bahasa masyarakat awam adalah bertutur kata. Ini diwujudkan dalam bentuk berbahasa secara formal maupun non formal. Dalam tataran formal misalnya bahasa dalam berpidato, presentasi produk, presentasi ilmiah, berdiplomasi dan lain-lain. Sedangkan berbahasa dalam bentuk non formal bisa dalam bentuk  bercanda, ngerumpi, atau sekedar ngobrol-ngobrol (chating).

Dalam perkembangannya bahasa menjadi ciri dari sebuah kebudayaan. Minimal menjadi pembeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain dari sisi penggunaan bahasanya. Bagaimana kita membedakan bahasa Jawa Solo dengan bahasa Jawa Banyumasan. Begitu pula dalam semua bahasa, dan termasuk dalam bahasa Arab. Bagaimana kita membedakan suku-suku di jazirah Arab, antara tamim, nejd, Syiria, Mesir salah satunya yang terpenting adalah dengan mengamati bahasa yang digunakan. Namun dari sisi ilmiah, tentu hal ini harus di kaji lebih dalam lagi. Apalagi kalau kajian ini menyangkut ilmu sosiolinguistik.

Budaya arab memiliki pengaruh yang sangat besar dalam hal kebiasaan sehari-hari, cara berbicara penutur asli yang biasa dipelajari oleh pembelajar bahasa arab, sehingga memudahkan pembelajar untuk memahami dan mempelajarinya. Untuk mengetahui penggunaan aspek budaya dalam pengajaran bahasa arab, maka artikel ini akan membahas lima hal, yaitu : (1) Pengertian budaya (2) Pengertian pengajaran bahasa (3) Hubungan budaya dan bahasa (4) Aspek-aspek budaya yang mempengaruhi pengajaran bahasa (5) Aplikasi budaya dalam penbelajaran bahasa. Lantas sejauh mana bahasa dan budaya saling mempengaruhi? Bagaimanakah aplikasi budaya dalam pembelajaran bahasa? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan dijawab dalam tulisan ini.

Pengertian budaya

Definisi budaya banyak diartikan sebagai  sesuatu yang kompleks yang melingkupi kehidupan manusia sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Soerjono Sukanto, dengan mengutip E.B. Taylor, mengungkapkan bahwa kebudayaan adalah “Kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, adat-istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat”. Dalam kaitan ini budaya sering berkaitan dengan pencapaian dan penciptaan terhadap sebuah karya, baik berupa adat,  kebisaaan, sains, teknologi, seni, agama dan lain sebagainya yang tersimbolkan dalam banyak bentuk. Secara sistematik, unsur-unsur kebudayaan dirumuskan menjadi; system religi dan keagamaan, system organisasi kemasyarakatan, system pengatahuan, bahasa, kesenian, system mata pencaharian, dan system teknologi dan peralatan. Namun secara keseluruhan, budaya adalah produk masyarakat.

Kebudayaan menurut Clifford Geertz sebagaimana disebutkan oleh Fedyani Syaifuddin dalam bukunya Antropologi Kontemporer yaitu sistem simbol yang terdiri dari simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat diindentifikasi, dan bersifat publik. Senada dengan pendapat di atas Claud Levi-Strauss memandang kebudayaan sebagai sistem struktur dari simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat diindentifikasi, dan bersifat publik.

Adapun Gooddenough sebagaimana disebutkan Mudjia Rahardjo dalam bukunya Relung-relung Bahasa mengatakan bahwa budaya suatu masyarakat adalah apa saja yang harus diketahui dan dipercayai seseorang sehngga dia bisa bertindak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di dalam masyarakat, bahwa pengetahuan itu merupakan sesuatu yang harus dicari dan perilaku harus dipelajari dari orang lain bukan karena keturunan. Karena itu budaya merupakan “cara” yang harus dimiliki seseorang untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari dalam hidupnya.

Pengertian Pengajaran

pengajaran merupakan perpaduan dari dua aktivitas, yaitu Aktivitas Mengajar dan Aktivitas Belajar. Aktivitas mengajar menyangkut peranan seorang guru dalam konteks mengupayakan terciptanya jalinan komunikasi harmonis antara mengajar itu sendiri dengan belajar. Jalinan komunikasi yang harmonis inilah yang mnejadi indicator suatu aktivitas/proses pengajaran itu berjalan dengan baik. Jadi, Konsep Dasar Pengajaran Bahasa Arab adalah gagasan/perencanaan awal yang sudah disiapkan untuk mengajar bahasa arab sesuai dengan aktivitas atau proses pengajaran antara pendidik dan peserta didik.

Dalam konteks pengajaran, perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pengajaran, penggunaan metode pembelajaran dan penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Suatu pengajaran akan bisa disebut berjalan dan berhasil secara baik, manakala ia mampu mengubah diri peserta didik dalam arti yang luas serta mampu menumbuh kembangkan kesadaran peserta didik untuk belajar, sehingga pengalaman yang diperoleh peserta didik selama ia terlibat di dalam proses pengajaran itu dapat dirasakan manfaatnya secara langsung bagi perkembangan pribadinya.

Kunci pokok pengajaran bahasa arab itu ada pada seorang guru. Tetapi ini bukan berarti dalam dalam proses pengajaran hanya guru yang aktif, sedangkan peserta didik pasif. Pengajaran menuntut keaktifan kedua pihak yang sama-sama menjadi subyek pengajaran.

Pihak pendidik berperan sebagai pengendali dan pengarah proses pengajaran. Pendidik disebut sebagai objek (pelaku peranan pertama) pengajaran.oleh karena itu seorang pendidik menjadi pihak yang memiliki tugas, tanggung jawab dan inisiatif pengajaran. Sedangkan pihak peserta didik sebagai pihak ynag terlibat langsung sehingga ia dituntut keaktifannya dalam proses pembelajaran. Peserta didik mempunyai peran sebagai objek pengajaran kedua, Karena pengajaran itu tercipta setelah ada beberapa arahan dan masukkan dari objek pertama (pendidik) selain kesediaan dan kesiapan peserta didik itu sendiri sangat diperlukan untuk terciptanya proses pengajaran.

Hubungan Budaya dan Bahasa

Bahasa dan budaya mempunyai hubungan yang sangat erat. Bahasa adalah alat ekspresi budaya. Tidak ada suatu pengetahuan sebagai produk budaya yang disampaikan dengan efisien kecuali lewat media massa. Maka bahasa merupakan pendukung mutlak keseluruhan pengetahuan manusia. Dengan bahasa, budaya suatu bangsa disebarluaskan sampai ke ujung bumi, dilestarikan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sebaliknya, sistem dan wacana bahasa, juga tidak terlepas dari nilai dan sistem budaya yang menjadi induknya.

Sementara Levi Strauss, sebagaimana dikutip oleh Darsita, menjelaskan bahwa bahasa dan kebudayaan memiliki hubungan dan membedakan kebudayaan dalam tiga hal, yaitu:

1.      Bahasa yang digunakan oleh masyarakat dianggap sebagai refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan

2.      Bahasa adalah bagian dari kebudayaan, atau salah satu unsur dari kebudayaan

3.      Bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan.

            Kemudian Darsita menjelaskan poin ketiga, bahwa bahasa yang merupakan kondisi bagi kebudayaan menjadi dua hal, yaitu; pertama, bahasa merupakan kondisi kebudayaan dalam arti yang diakronis, di mana bahasa mendahului kebudayaan. Karena melalui bahasalah manusia menjadi makhluk sosial yang berkebudayaan dan berperadaban. Kedua, bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya adalah material yang sama untuk membangun kebudayaan, dalam arti bahwa bahasa merupakan fondasi bagi terbentuknya berbagai macam struktur yang kompleks yang sejajar dengan unsur budaya yang lain.

            Dengan demikian menjadi jelas bahwa berbahasa memang menunjukkan bagaimana sebuah komunitas atau bangsa berbudaya. Antara berbahasa dan berbudaya menunjukkan hubungan timbal balik. Untuk mempertahankan budaya maka berbahasa menjadi sebuah kelaziman. Demikian juga untuk mempertahankan bahasa, keberlangsungan budaya sangat penting walaupun budaya adalah naluri dari kehidupan manusia itu sendiri sebagai makhluk sosial.

 

Aspek-aspek budaya yang mempengaruhi pengajaran bahasa

Aspek-aspek budaya yang dapat mempengaruhi dalam pengajaran bahasa diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Benda-benda budaya (artifact)
  2. Gerak-gerik anggota badan (kinesics)
  3. Jarak fisik ketika berkomunikasi (proxemics)
  4. Kontak pandangan mata ketika berkomunikasi
  5. Penyentuhan (kinesthesics)
  6. Adat-istiadat atau kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di masyarakat
  7. Sistem nilai yang berlaku di masyarakat
  8. Sistem religi yang dianut masyarakat
  9. Mata pencarian penduduk
  10. Kesenian
  11. Pemanfaatan waktu
  12. Cara berdiri, cara duduk, dan cara menghormati orang lain
  13. Keramah-tamahan, tegur sapa, dan basa-basi
  14. Pujian
  15. Hal-hal yang tabu dan pantang
  16. Gotong royong dan tolong-menolong
  17. Sopan santun, termasuk penggunaan eufemisme

            Dari semua aspek tersebut dapat  mempengaruhi kebiasaan para pembelajar dalam mempelajari bahasa, serta bagaimana seorang guru mempraktekkannya kepada peserta didik. Adapun beberapa contohnya dari aspek yang ada diatas salah satunya jika terjadi perselisihan yang menimbulkan perkelahian/pertengkaran hendaklah usahakan mendamaikan dengan mengucapkan  “Shalluu ‘alan Nabi” berulang-ulang. Dari segi seni bangunan yang masih memperlihatkan ciri arsitektur adalah Masjid Nabawi. banyak sekali hal yang dilakukan oleh bangsa arab seperti ketika bertemu dijalan mengucapkan ahlan wa sahlan, kaifa haluk dan lain sebagainya.

 

Aplikasi budaya dalam penbelajaran bahasa

Bahasa Arab masuk ke Indonesia seiring dengan masuknya Islam. Ini tidak bisa dipungkiri, karena dominasi keagamaan dalam berbahasa Arab sangat kuat. Pesan -pesan moral keagamaan ( Islam ) tertulis dalam bahasa Arab. Dengan kata lain Bahasa Arab adalah bahasa Islam. Masuknya bahasa  Arab ke Indonesia pun membawa pengaruh dan dampak yang cukup berarti dalam tatanan kebudayaan masyarakat. Dan proses akulturasi budayapun menjadi satu keniscayaan.

            Peranan bahasa Arab dalam kebudayaan nasional telah mengambil bagian penting sejak berkembangnya agama Islam di Nusantara pada abad XIII dan sampai saat ini masih dirasakan peranannya secara leksikal maupun semantik. Hal ini terlihat pada berbagai bidang. Misalnya pada upacara sekaten di Kraton Surakarta dan Yogyakarta, upacara perkawinan, khataman, khitanan, kata sakral atau mantera-mantera yang dipakai oleh masyarakat Indonesia adalah menggunakan huruf atau kata-kata bahasa Arab. Bahkan ungkapan-ungkapan tertentu yang banyak dipakai oleh masyarakat Indonesia secara meluas dan merakyat dengan menggunakan bahasa Arab.

            Bahasa Arab mempunyai keanehan, ia bisa sakti dan mujarab, karena dapat menyembuhkan berbagai penyakit manusia. Dengan sarana air, seseorang yang saleh membaca do’a yang berbahasa Arab lalu dihembuskan ke dalam air, dan air berisi energi do’a, kemudian diminumkan kepada orang yang sakit. Insya Allah dengan izin-Nya, orang yang sakit akan sembuh.

            Bahasa Arab juga sangat berperan dalam karya-karya tulis anak-anak bangsa Indonesia. Banyak buku yang dikarang oleh ustadz atau ulama di Indonesia dengan menggunakan huruf Arab-Melayu, seperti buku Perukunan, Sifat duapuluh, dan buku-buku yang berkaitan dengan ibadah, hikayat, sejarah Nabi Muhammad, tasawuf, dan sebagainya.

            Dalam bidang kesusasteraan Indonesia pada zaman pujangga lama banyak ditulis dengan huruf Arab-Melayu yang banyak menggunakan kata-kata yang berasal dari bahasa Arab, maka mempelajari bahasa Arab bagi pelajar Indonesia, terutama jurusan sastra Indonesia, merupakan kunci untuk menggali kesussteraan Indonesia lama, karena banyaknya kata-kata Arab yang digunakan atau yang diambil menjadi kata-kata bahasa Indonesia sekarang.

            Dalam hal pengajaran bahasa secara umum, termasuk bahasa Arab untuk orang non-Arab, mengetahui budaya Arab merupakan hal yang lazim. Karena aspek bahasa bukan hanya makna saja tetapi hal yang melingkupi konteks bahasa itu sendiri. Rusydi Ahmad Thu’aimah menyatakan bahwa bahasa adalah budaya. Kaitan ini sangat erat karena lewat bahasalah unsur-unsur budaya dapat terhubung dengan jalinan yang erat. Sementara Albert Valdman mengemukakan bahwa untuk menjadi guru bahasa asing, aspek mengenai budaya harus dikuasai juga, selain penguasaan struktur bahasa itu sendiri. Meskipun budaya dalam arti yang minimalis mungkin. Karena kalau harus mengetahui seluk-beluk budaya secara detail justru akan memerlukan waktu yang lama untuk mempelajarinya. Karena lewat bahasa itu sendiri, hakekatnya budaya sudah dipelajari.

            Persoalan non linguistik ini juga menjadi kendala keberhasilan pembelajaran yakni kondisi sosio-kultural bangsa Arab dengan non Arab (Indonesia). Problem yang mungkin muncul ialah bahwa ungkapan-ungkapan, istilah-istilah dan nama-nama benda yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia tidak mudah dan tidak cepat dipahami oleh pembelajar Indonesia yang sama sekali belum mengenal sosial dan budaya bangsa Arab. Contoh ungkapan “ السيل الزبا بلغ ” /balagha al-sail al-zuba, maknanya adalah “nasi telah menjadi bubur”, bukan “air bah telah mencapai tempat tinggi”. Selain itu, peribahasa “الرماء تملأ الكنائن  قبل ” /qabla al-rimâ’ tumla’u al-kanâin (sebelum memanah, penuhi dulu tempat anak panahmu), di Indonesia, pribahasa ini sama maknanya atau diartikan dengan pribahasa “sedia payung sebelum hujan”. Latar belakang sosial budaya orang Arab dahulu adalah sering mengadakan perang, maka mereka mengatakan pribahasa seperti itu. Sedangkan bangsa kita sering mengalami musim hujan, maka kita menggunakan pribahasa itu. Jadi, pengetahuan tentang konteks sosio-kultural pemilik bahasa yang dipelajari sangat penting, karena dengan pengetahuan tersebut diharapkan dapat lebih cepat memahami pengertian dari ungkapan-ungkapan, istilah-istilah dan benda-benda yang khas bagi bahasa Arab serta mampu menggunakan ungkapan-ungkapan tersebut pada situasi dan waktu yang tepat.
            Bahasa Arab diajarkan di Indoensia lebih dominan karena bahasa Arab merupakan bahasa Alquran dan Hadits. Oleh akrena itu yang nampak dalam pengajaran Bahasa Arab adalah bahwa mempelajarinya sekaligus mempelajari agama Islam. Dengan demikian sebetulnya mempelajari Bahasa Arab adalah mempelajari budaya Islam. Inilah yang mendasari pentingnya mengajarkan Bahasa Arab dalam kaitannya dengan pendidikan agama Islam.

            Di samping itu, pengajaran Bahasa Arab di Indonesia lebih mengacu kepada bahasa resmi yang dipakai oleh Negara-negara Arab. Bahasa Arab resmi ini sering disebut Bahasa Arab fusha. Bahasa Arab fusha sering dibedakan dengan Bahasa Arab ‘amiyah.

            Ada satu usulan menarik dari Muhbib Abdul Wahab, bahwa sekarang di sekolah-sekolah sudah seharusnya diajarkan bahasa amiyah juga kalau bahasa itu adalah alat komunikasi. Ini dengan asumsi bahwa dalam kenyataannya bahasa Arab fusha jarang dipakai kecuali dalam acara-acara resmi atau khotbah Jum’at. Hal ini juga didasari kenyataan bahwa saat ini di Arab sendiri ada fenomena pencampuran antara fusha dan amiyah yang beliau sebut fusamiyah.

            Usulan ini sebetulnya realistis namun tentu harus dilihat secara jeli karena Bahasa Arab yang diajarkan sekarang di sekolah saja masih banyak persoalan yang belum selesai. Sehingga penambahan beban dengan materi baru justru bisa mengganggu proses yang sedang berjalan. Selain itu, pengajaran bahasa ‘amiyah akan terbawa dengan sendirinya jika memang dibutuhkan ketika akan menggunakannya di daerah tertentu. Menurut Dr. A. Sayuti A. Nasution, MA., di banyak negara berbahasa Arab, bahasa yang diajarkan tetaplah bahasa fusha meskipun dalam prakteknya masih bahasa ‘amiyah yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari.

            Pada sekolah tertentu mungkin bisa, seperti di MAK atau di pesantren-pesantren modern. Tentu akan muncul persoalan baru lagi, karena ‘amiyah mana yang akan dipakai, mengingat ada 24 negara pengguna Bahasa Arab, yang dengan demikian juga ada 24 dialek dan turunannya.

            Sedangkan Dr. A. Sayuti A. Nasution, MA., dalam Jurnal ‘Afaq ‘Arabiyah menjelaskan spesifikasi ideal seorang guru dari sisi standar budaya, yaitu:

1.      Memahami budaya Arab dan islam, mengingat bahwa mengajarkan bahasa tidak bias dlakukan terpisah dari budaya yang melahirkan bahasa terserbut.

2.      Mampu mempelajari budaya Arab baik yang bersifat umum maupun khusus serta mengambil nilai-nilainya.

3.      Mampu berkreasi dan membuat kegiatan yang berguna untuk peningkatan pengajaran Bahasa Arab.

4.      Dapat menilai dan memahami budaya lokal, politik dan social di negara tempat dia mengajar/ bekerja.

5.      Dapat membandingkan antara nilai-nilai budaya Arab dan budaya lokal

6.      Dapat menilai kegiatan yang bernialai budaya yang terjadi pada masyarakat

7.      Lancar berbahasa local, dan mampu mengadakan study konstrastif dengan Bahasa Arab baik dari sisi ungkapannya maupun dari sisi fonetisnya.

            Selain spesifikasi guru ideal di atas, kiranya metode pengajaran juga penting untuk diperhatikan. Pada saat ini bidang pendidikan dan pengajaran bahasa Arab di Indonesia menyaksikan kehadiran berbagai strategi, metode, pendekatan yang dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pengajaran bahasa Arab itu sendiri. Strategi, metode, dan pendekatan tersebut beraneka ragam coraknya mulai dari yang sederhana dan tradisional hingga yang canggih dan kompleks. Misalnya, pernah terdengar kursus 48 jam untuk mampu membaca berbagai wacana bahasa Arab (klasik dan modern), pembelajaran bahasa Arab kontekstual, komunikatif, interaktif, dan lain sebagainya. Dan yang belum lama ini terdengar adalah pembelajaran bahasa Arab berbasis pemahaman lintas budaya atau lebih dikenal dengan metode CCU (cross cultural understanding), walau sebenarnya gagasan seperti ini muncul terutama dalam bidang bisnis, seperti dilakukan oleh Mohammad Al-Sabt pada tahun 1995 melalui situs traderscity.com dengan artikel Arabian Business and Cultural Guide.

            (Pemahaman lintas budaya) merujuk kepada kemampuan dasar orang dalam berbisnis untuk mengenal, menafsirkan, dan bereaksi dengan benar terhadap kejadian atau situasi yang dapat menimbulkan kesalahfahaman disebabkan perbedaan budaya. Perhatian utama dari latihan lintas budaya adalah untuk melengkapi pembelajar dengan keterampilan yang cocok untuk mancapai pemahaman lintas budaya. Apabila dasar pemahaman lintas budaya telah diletakkan, pembelajar melalui latihan yang berkelanjutan atau pengalaman di tempat kerja, secara bertahap dapat mencapai apresiasi yang lebih halus tentang perbedaan budaya.

Penutup

            Dengan demikian sangat jelas dari makalah ini hubungan antara bahasa dan budaya. Dengan melihat bahwa bahasa adalah bagian dari budaya, maka hubungan ini sangat erat. Sehingga bagaimana kita berbahasa juga harus dilihat dalam kerangka bagaimana kita akan mengembangkan budaya kita. Ke arah peradaban yang seperti apa saat ini, maka semua bisa terbaca lewat perkembangan bahasa itu sendiri.

            Bahasa Arab yang berkembang selama ini adalah bahasa Islam, dengan demikian Bahasa Arab mencerminkan budaya Islam. Ini mengingat bahwa kitab suci Islam, Alquran dan Hadits, keduanya berbahasa Arab.

            Bahasa Arab fusha adalah bahasa resmi yang digunakan dalam berbagai kesempatan. Oleh karena itu Bahasa Arab yang diajarkan di sekolah saat ini adalah Bahasa Arab fusha.

            Dalam hal pengajaran bahasa Arab untuk orang non-Arab, mengetahui budaya Arab merupakan hal yang lazim. Karena aspek bahasa bukan hanya makna saja tetapi hal yang melingkupi konteks bahasa itu sendiri.

            Selain itu diperlukan penerapan metode yang sesuai dalam rangka pengajaran bahasa Arab yang efektif. Salah satu metode yang dapat dicoba untuk diterapkan dalam pengajaran bahasa lintas budaya adalah CCU (cross cultural understanding).

 

 

Daftar Rujukan

Abdul Chaer dan Leonia Agustina, 2004. Sosiolinguistik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Effendy, A. F. 2010. Sejarah Peradaban Arab dan Islam. Malang : Misykat.

Kusumohamidjojo, B. 2009. Filsafat Kebudayaan Proses Realisasi Manusia. Yogyakarta : Jalasutra

Ihromi, T.O. 2000. Pokok-pokok Antropologi Budaya. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Universitas Negeri Malang. 2010. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Skripsi, Tesis, Disertasi, Artikel, Makalah, Tugas Akhir, Laporan Penelitian. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang Press.

Koentjaraningrat. 1974. Kebudayaan, Mentalitet, dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia.

Jurnal ‘Afaq ‘Arabiyyah, PBA FITK UIN Jakarta Vol 11  tahun  2007

Jurnal Al Turats, Vol. 9, No. 2, Juli 2003

Kisah Alay yang Dibuat Lucu Tapi Menipu (Memperolok-Olok Agama)

Gambar

Astaghfirullah, mungkin bagi sebagian orang lucu tapi buat saya itu membuat pilu. Setengah terkejut, setengah cemberut, dahi pun mengerut, sambil merungut dan celetuk “kok ada ya, orang yang anggap itu persoalan main-main?” Sungguh dahsyat kreativitas yang digunakan untuk membuat guyonan tanpa ilmu atau ilmu pas-pasan yang digunakan seenak hatinya, walaupun niat menghibur orang, sengaja atau tidak sengaja, tahu atau tidak tahu, sadar atau tidak sadar, suka tidak suka, mau atau tidak mau, hal seperti ini termasuk ke dalam memperolok-olok agama. Na’udzubillah, innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’un.

Saya sampai tidak punya daya memasang gambar bergerak tersebut akan tetapi agar ada sedikit bayangan untuk tujuan agar jangan sampai salah seorang dari kita merespon apalagi terseret menjadi bagian dari lelucon ini, saya tuliskan dialog yang terjadi.

Alkisah seorang ABG alay mati muda. Kemudian sampai di alam kubur, ABG alay tersebut ditanya oleh seseorang berambut panjang dengan lingkaran di atas kepalanya yang dinisbatkan sebagai malaikat, “Kamu tahu kamu berada di mana sekarang?”

ABG alay tanpa ada sedikit pun rasa takut menjawab “di hatimuuuu…”

Si malaikat terlihat mulai alay tetapi tetap bertanya dengan mengubah senyum sinisnya menjadi senyum datar menahan kesal, “nnngggg…. Siapa Tuhanmu?”

Si ABG alay malah menjawab seolah merayu sang malaikat, “kasih tau nggak yaaa…?!”

Dengan kegirangan dan seolah menertawakan sang malaikat si ABG menjawab “mau tau aja atau mau tau banget!?” ketika sang malaikat bertanya dengan nada amarah, “Siapa nabimu?”.

Dengan tawa terbahak-bahak si ABG alay tetap PD menjawab pertanyaan sang malaikat yang sudah terbakar ubun-ubunnya dan menggelegar amarahnya sehingga menimbulkan aura yang seolah semakin menakutkan akan tetapi si ABG masih ber-alay-alay, “Kamu tahu tidak bahwa kerikil neraka jahannam panasnya 70 X api di dunia????”

Dengan wajah yang dibuat-buat terkejut si ABG alay menjawab lagi dengan semakin bergaya alay, “Terus w harus bilang WOW githu..??”

Kelihatannya sang malaikat sudah kalap dan overload tidak mampu menahan kemarahan yang sangat dan menjengkelkan menghadapi si ABG alay, tanpa bertanya lagi dan langsung menujuk si ABG alay pakai tongkat runcing bermata 3 seperti garpu, “SAYA PASTIKAN KAMU MASUK NERAKA JAHANAM!!!”

Akan tetapi si ABG alay malah semakin tertawa terpingkal-pingkal dan tanpa takut ditodong begitu berkata “Ciyuuus?? Miapah??”

Astaghfirullah…

Seseorang yang mengira anggapannya benar padahal tidak, justru dapat menjerumuskan atau memperdaya orang lain dengan sesuatu yang dianggapnya lucu. Bayangkan saja yang akan timbul setelah beberapa orang menyaksikan gambar bergerak tersebut yang gambarannya sangat bertolak belakang sekali dengan paparan Rasulullah SAW tentang alam kubur, mungkin yang tidak mengetahui hal yang sebenarnya akan membuat ia tidak takut akan siksa alam kubur yang memang nyata untuk manusia yang berdosa pada Tuhannya. Akan membuat seseorang tertipu dengan dunia dan kenikmatannya yang sementara (ini adalah rasukan setan yang paling dahsyat), dan membuat seseorang jauh dari kebenaran akhirat.“Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti.” (QS. At Taubah: 64).

Daripada menceritakan sebuah kisah palsu yang dibikin lucu tapi menipu, bukankah lebih baik menebarkan kebaikan dengan menyebarkan sebuah kabar yang benar adanya berdasarkan penuturan sang pembawa risalah; Nabi Muhammad tercinta. Walaupun kita akan dibuat tercengang dengan kebenarannya atau bahkan berharap lama untuk sampai kembali pada-Nya guna mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya atau bahkan sebaliknya tidak berharap mendapat siksa akan tetapi terlena dengan dunia yang hanya fatamorgana.

Kisah asli dari lelucon yang tidak lucu itu adalah yang sebagaimana dituturkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah yang pernah bercerita,

“Kami keluar bersama Rasulullah mengantarkan jenazah seorang laki-laki dari kaum Anshar sehingga kami selesai menguburkannya. Rasulullah kemudian duduk dan kami duduk di sekelilingnya seakan di kepala kami bertengger seekor burung karena tegangnya. Sementara di tangan beliau memegang tongkat untuk mengorek-ngorek tanah. Tiba-tiba beliau mengangkat tongkatnya dan bersabda,

”Mohon perlindunganlah kepada Allah dari azab kubur dua kali atau tiga kali.”

Selang beberapa saat Rasulullah kembali bersabda, “Sesungguhnya saat seorang hamba mukminin hendak berpisah dengan dunia dan menuju akhirat, turunlah malaikat-malaikat dari langit dengan wajah-wajah putih seperti matahari. Mereka membawa kain kafan dan tempat dari surga dan mereka duduk berderet panjang. Kemudian datanglah malaikat pencabut nyawa dan duduk dekat kepalanya. Malaikat maut itu berkata, ‘Keluarlah wahai jiwa yang tenteram, keluarlah kepada pengampunan Allah dan keridhaan-Nya. Jiwa itu keluar bagai air yang keluar dari pancuran. Diamlah jiwa itu oleh malaikat maut dan diterima dengan cepat oleh malaikat yang berderet di sekitarnya. Mereka kemudian meletakkan nyawa itu dikafan dan kotak dari surga itu. Keluarlah harum minyak wangi yang paling harum di dunia. Para malaikat membawanya ke langit. Setiap kali mereka melewati malaikat-malaikat di langit mereka bertanya, ‘Ruh siapa yang harum ini?’ Mereka menjawab, “Ini adalah ruh Fulan bin Fulan dengan menyebut nama terbaik yang dimilikinya di dunia. Jiwa itu dibawa sampai ke langit dunia dan mereka meminta dibukakan dan dibukakan pintu langit dunia tersebut. Semua penghuni setiap langit merasakan semerbak harum wangi jiwa tersebut dari satu langit ke langit berikutnya hingga ke langit ketujuh”

Allah SWT berfirman, “Tulislah catatan hamba-Ku ini di illiyyin (tingkatan tertinggi) dan kembalikanlah ia ke bumi, karena dari tanah itu Aku ciptakan mereka, kepadanya Aku kembalikan mereka, dan darinya pula Aku keluarkan mereka untuk sekali saja.”

Rasulullah SAW bersabda, “Maka ruhnya dikembalikan ke bumi. Datanglah dua malaikat dan duduk di dekatnya. Keduanya berkata, ‘siapa Tuhanmu?’ Ia menjawab, ‘Tuhanku Allah.” Dua malaikat itu bertanya lagi, ‘Apa agamamu?’ Ia menjawab, ‘Agamaku Islam.” Ia ditanya lagi, ‘Siapa laki-laki yang Aku utus kepadamu?’ Ia menjawab, ‘Beliau adalah Muhammad, utusan Allah.’ Ia ditanya lagi, ‘Ia mengajarkan apa kepadamu?” Ia menjawab, ‘Ia mengajarkan kepadaku kitab Allah, aku beriman kepadanya dan membenarkannya. ‘Maka ada suara dari langit, ‘Hamba-Ku benar. Gelarkanlah baginya tikar surga, berilah pakaian untuknya dari pakaian surga, bukakan pintu surga.’

Kemudian diberikanlah kepada ruh itu wewangian dan hamparan yang sangat luas. Datanglah seorang laki-laki yang wajahnya tampan, berpakaian indah, dan wangi harumnya lalu berkata, ‘Aku memberimu kabar gembira yang pernah dijanjikan padamu.’ Ia berkata, ‘Siapa kamu?’ Wajahmu mendatangkan kebaikan.’ Ia menjawab, ‘Aku amal shalihmu.’ Kemudian orang itu berkata, ‘Wahai Tuhanku, bangkitkanlah kiamat, bangkitkanlah kiamat, sehingga aku kembali kepada keluarga dan hartaku.””

Rasulullah SAW bersabda kembali, “sesungguhnya jika hamba yang kafir hendak meninggalkan dunia dan menuju akhirat, maka turunlah malaikat-malaikat dari langit yang hitam wajahnya membawa kain yang kasar. Mereka duduk di sekitarnya dan berderet hingga datanglah malaikat maut dan mengatakan, ‘Wahai yang busuk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Allah.’ Maka berpisahlah ruh itu dan dicabut seperti mencabut duri dari bulu domba yang ruwet. Ketika nyawa itu sudah tercabut secepat kilat dimasukkan oleh para malaikat itu ke dalam kain yang kasar. Maka keluarlah bau terbusuk yang pernah ada di dunia dan dibawanyalah itu ke langit. Setiap kali melewati serombongan malaikat, mereka mengatakan. ‘Nyawa siapa yang sangat busuk ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah nyawa Fulan bin Fulan, nama yang paling buruk yang ia miliki di dunia. Malaikat itu meminta agar dibukakan pintu langit, namun dibukakan baginya.”

Kemudian Rasulullah saw. Membaca ayat, ‘….Sesekali-kali akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga hingga unta masuk ke dalam lubang jarum….’ (al-A’raf: 40)

Maka Allah berfirman, ‘Tulislah catatan hamba-Ku di sijjin tempat terendah di dasar bumi.’

Maka dilemparkanlah ruhnya dengan lemparan yang dahsyat. Kemudian Rasulullah SAW membaca firman Allah, ‘…barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.’ (Al-Hajj: 31).

Ruhnya dikembalikan ke dalam jasadnya dan datanglah dua malaikat duduk di dekatnya dan bertanya, ‘siapa Tuhanmu?’ Ia menjawab, ‘Ee….ee…aku tidak tahu.’ Ia ditanya lagi, ‘Siapa laki-laki yang diutus kepadamu ini?’ Ia menjawab, ‘Eee…eee… aku tidak tahu.’ Maka ada suara dari langit, ‘Hamba-Ku berdusta dan berbohong. Berikan kepadanya tempat dari neraka, berikan pakaian dari neraka, dan bukakanlah baginya pintu neraka.’

Maka ia beri panasnya neraka, dan racun-racunnya. Kuburan menghempitnya sehingga tulang-tulangnya terputus-putus. Datanglah lelaki yang buruk rupa dengan pakaian jelek dan bau busuk. Ia berkata kepadanya, ‘Aku berikan kabar yang menyedihkan kepadamu yang pernah dijanjikan kepadamu.’ Ia bertanya siapa kamu? Muka mu memberikan berita buruk.’ Orang itu menjawab, ‘Aku adalah amal jahatmu.’ Maka ia mengatakan, ‘Wahai Tuhan jangan bangkitkan hari kiamat.”” (HR.Muslim)

Kreativitas memang luas, mungkin tak terbatas akan tetapi jangan sampai kebablasan merusak kebenaran dan menciptakan kerusakan. Bercanda pun ada batas, tidak asal jeplak dan membuat orang lain terjebak dalam dunia yang penuh tipu daya. Memang sekarang ini, dunia tengah dilanda paham hedonis, paham yang dianut sebagian orang yang hubbud dunya atau cinta dunia yang mengira dunia itu kehidupan yang kongkret sementara akhirat itu belum ada, jadi daripada memikirkan yang belum terjadi lebih baik menikmati apa yang telah ada salah satunya dengan memperolok kebenaran atas siksa Allah yang diturunkan pada orang-orang yang mengingkari kebenaran-Nya dan membuatnya menjadi bahan candaan. Na’udzubillah, padahal mengutamakan dunia yang tunai ini atas akhirat yang tertunda adalah tipuan dan kebodohan yang besar. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Perumpamaan dunia dengan akhirat adalah kalian mencelupkan jari kalian ke laut kemudian diangkat, lihatlah dunia hanya air yang ada di jari tersebut.”

Baiknya kita renungi perkataan Rasulullah saw tersebut bukan malah ikut-ikutan bercanda. Terlalu banyak bercanda juga tidak baik, apalagi yang dibercandakan persoalan agama. Lebih baik menjauhi bercandaan seperti itu, jangan ikut-ikutan karena mau menghibur diri sendiri atau orang lain.

… هو، هو، كما هو

Gambar

“ابحثي عن تاريخ مناسب لنا”

مازال يدور في فكرتي ما قاله لي في تلك الليلة. شعرت بفرحة جدا.

“التاريخ منا سب؟ ما عرفت أي تاريخ مناسب لنا. هل عند ك رأي؟”

“في أي تاريخ ولدت؟”

“ولدت في الخامس عشر من يناير، لماذا؟ فيما تفكر؟”

“جيد، ولدت في الخامس عشر و ولدتُ في التاسع عشر. واخترت السابع عشر المنا سب لنا و يكون ذلك التاريخ تماما غدا. فلذلك، غدا يوم رسمي لنا، أحبك يا أختي في الله”

سبحان الله قال لي أنه يحبني. ماشاء الله “أحبك في الله” قلت في قلبي. و منذ ذلك اليوم يكون هو حبيبي. و ملأ حياتي بالسعادة ليس لي وقت أنفده منفردة. فطبعا أنفده معه. و في كل يوم الأحد أتمشى معه إلى مكان خاص.

***

والآن قد جرت العلاقة بيني و بينه ستة أشهر. ولكني شعرت بقلق و خطر ببالي تساؤل مديد. هل هو عنده مرأة أخرى؟ هل مازال يحبني؟ هل أنا في قلبه؟ أسئلة كثيرة في فكرتي عنه. أحسست بأنه غير جميل، هو رجل طويل هزيل. شعره مسترسل غير مرتب. هو أسمر اللون وجبهته بارزة و حاجباه رقيقان. و أنفه أفطس وله شفتان رقيقتان. وذقنه صغير و لا أنسى أن عينيه صغيرتان و يزيد صغره عندما كان يستعمل المنظرة. نعم، هو حبيبي، كثير من الأصدقاء يقولون أنه قبيخ و أحس بذلك. ولكني ماعرفت لما أحبه. و قالت إحدى صديقاتي أنه أخي الصغير لأن عمره أقل من عمري مرة أخري عرفت ذلك. ولكني مااستطعت أن أقول أنني أحبه جيدا.

و امتلأ قلبي بقلق. قرأت في جواله رسالة قصيرة من مرأة تدعوه بدعوة خاصة مثل ما أدعوه، أنا في حيرة. هل هو كاذب علي؟ بكيت عنه كل ليلة و أشعر بأني أعيش في الدنيا منفردة. ماعندي صديق و لا صديقة.

وذات يوم بكيت بكاء إلى حد بعيد و تصاحبني إحدى صاحباتي، و تسألني : “لماذا أنت تبكين؟”

“بكيت لأنه يخونني”

“يخونك؟ ما المقصود من كلامك؟”

“نعم، هو خيان. قرأت رسالة قصيرة في جواله من مرأة اسمها “…….” وهي تدعوه بدعوة خاصة مثل ما أدعوه”. فصار قلبي منكسرا حزينا.

“اصبري، سأجرب باتصال به تليفونيا. و سأسأله عن هذا الأمر”

“شكرا يا صاحبتي”

“عفوا، أنت أختي ولابد أن أساعدك”

***

شعرت بآلم شديد في الخنجرة. وأصابني سعل. جلس ورافقني مع تبادل الكلام بيننا. سألني، لماذا كنت باردة أمامي ولماذا تغيرت؟” وبعد أن تم كلا مه بكيت حالا بكاء جانبه و قال لي: “يا حنانتي، لماذا تبكين؟ بما شعرت يا أختي؟ أين يكون الألم، من فضلك؟”

ازداد بكائي. مااستطعت أن أجيب أسئلته.

“من هي؟” أبدء كلامي بهذا السؤال. وتلوح على وجهه أمرات الحيرة.

“ماذا قلت؟ ما فهمت سؤالك يا أختي؟”

“مافهمت؟ من هي؟ لماذا تدعوك بدعوة خاصة؟ من هي في حياتك؟ أليس في حياتك مرأة أحببته و هي مريضة أمامك الآن؟”

“أستغفرالله يا حنانتي. أأنت لاتصدقني؟ أحبك كل الحب يا أختي وحبي لك لايعلو عليها حب، أنت حبيبتي ليست في حياتي مرأة أخرى إلا أنت”.

“صح ما قلت؟ هل قولك موثوق به؟”

“أجل، أحبك يا أختي. اعذريني. أعاهدك أنني لن أكرر أخطائي عليك من جديد”.

“طيب، أثق بقولك”

***

أذهب إلى الجامعة. وقبل أن أذهب إليها أنزل ببيته المستأجر لإستقباله. لأني منذ أن جرت العلاقة بيني و بينه أستقبله كل صباح لذهاب معا إلى الجامعة. وكذلك في الرجوع انتظره أو هو ينتظرني و بعد ذلك نرجع معا.

جئت في الزقاق أمام بيته المستأجر. و أرسل رسالة قصيرة إليه و أخبرته أنني قد أتيت أمام البيت. و بعد أن أنتظره بخمسة دقائق جاء إلي و نذهب جنبا إلى جنب إلى الجامعة. ثم ندخل فصل كل منا. و بعد انتهاء المحاضرة ألتقي به ونذهب إلى المطعم لتناول الغداء. ثم نذهب إلى المسجد للصلاة. وجائت الساعة الواحدة وهاهو وقت للدخول إلى الفصل مرة أخرى. و في النهار بعد انتهاء المحاضرة نرجع معا. وقبل أن نرجع نذهب إلى مكان خاص لنتحدث عن أمرنا.

“كيف بمحاضرتك هذا اليوم يا حنانتي؟”

“حسن جرت كماكانت العادة. أدرس معهم. وكيف بمحاضرتك؟”

“على سواء، أريد أن أذهب إلى السينما، ما رأيك؟”

“فكرة جيدة، أي فيلم تريده؟”

“مفوض إليك، أريد ما تريدينه؟ إذا أردت أن تذهبي إليه تفضلي أن تحتاري فيلما تريدينه”.

“و مفوض إليك إلى أين سنذهب المهم نذهب معا ولا آخر بيننا”.

“نعم يا حنانتي. سأكون بجانبك في كل وقت و مكان”.

“شكرا يا حناني، أحبك في الله”

***

و منذ ذلك اليوم، جرت العلاقة بيني و بينه بالسعادة. ويزيد حبه لي يوما بعد يوم، ويقول لي، “حبي لك لا يعلو عليه حب، أنت عندى كل شيء. و أرجوك أن تصدقيني رغم أني أكشف لك عن ورقي. ولتكن هذه قصة بيني و بينك”. كنت على و شك الموت حينما سمعت قوله لي.

“جيدا، و أرجوك أيضا أن تكون حبيبي المحبوب دائما و أبدا. أنني على أتم استعداد لممارسة حياتي معك، ووعدك موثوق به”. و أنظر على وجهه أمارات السعادة و السرور.

أنا أحبه و هو يحبني، و حبي له لايعلو عليه حب، ولكنني لم أكن أعرف بأن هذا الحب سينتهي بزواج، رغم أن وعده موثوق به. عسى الله أن يجعل العلاقة بيني و بينه وثيقة متينة إلى يوم يبعثون.

بقلم : حبيبتي سمية الزهرة